Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label istana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label istana. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Maret 2014

5 Istana Negara Yang Pernah Terbakar


Setiap negara tentu memiliki istana kepresidenan tempat kepala negara berkantor. Istana-istana itu juga pasti menyimpan sejarah panjang tentang kondisi negara itu, baik ketika masa revolusi maupun sesudah masa kemerdekaan.

Peristiwa terbakarnya Istana Negara di Jakarta kemarin menimbulkan sejumlah tanya sekaligus kekhawatiran tentang kondisi bangunan dan sistem pemeliharaan bangunan penting di suatu negara.

Tak hanya istana negara kita saja yang pernah terbakar seperti kejadian kemarin, sejumlah negara juga istana kepresidenannya pernah terbakar.

Berikut catatan sejarah  tentang istana kepresidenan suatu negara yang pernah terbakar.


1. Istana Malacanang, Filipina

Istana presiden ini terletak di sepanjang Sungai Pasig. Gedung ini dibangun oleh aristokrat asal Spanyol, Don Luis Rocha. Rancangan struktur istana ini kemudian dijual kepada Kolonel Jose Miguel Formente dan kemudian dibeli oleh negara pada 1825.

Setelah perang Spanyol-Amerika, istana ini menjadi tempat berkantor Gubernur Sipil Amerika. Pada 1863 istana ini mulai menjadi kediaman kepala negara.

Setelah Perang Dunia Kedua, istana ini menjadi tempat Mahkamah Agung selepas terjadi pertempuran di Manila pada Februari 1945. Pemerintah Filipina pernah berencana menghancurkan istana ini untuk dibangun gedung pencakar langit setelah istana ini hangus terbakar pada 1992. Namun rencana itu tidak jadi lantaran dana yang dibutuhkan tidak mencukupi. Presiden Fidel V Ramos kemudian memimpin pembangunan kembali istana ini.


2. Istana Kepresidenan Kairo, Mesir

Pada Februari bulan lalu Istana Kepresidenan di Ibu Kota Kairo, Mesir, sempat terbakar lantaran sejumlah demonstran marah dan melempari istana itu dengan bom molotov.

Para demonstran itu marah karena terbunuhnya lebih dari 50 orang pada unjuk rasa menentang Presiden Muhammad Mursi terkait hukuman mati oleh pengadilan terhadap 21 warga Kota Port Said. Mereka dijatuhi hukuman mati lantaran terlibat kerusuhan antar pendukung sepak bola pada Februari 2012.

Pihak keamanan menuding para demonstran yang membakar istana presiden itu mencoba merangsek masuk.


3. Gedung Putih, Amerika Serikat

Presiden pertama Amerika Serikat George Washington memilih lokasi Gedung Putih pada 1791. Arsitek kantor presiden Amerika ini adalah seorang kelahiran Irlandia bernama James Hoban.

Pasukan Inggris pernah membakar gedung putih pada perang di tahun 1814. James Hoban kemudian ditunjuk untuk membangun kembali kediaman presiden itu. Presiden James Monroe kemudian menempati gedung itu pada 1817.

Pada 1902 Presiden Theodore Roosevelt merombak gedung putih besar-besaran. Kurang dari 50 tahun setelah itu struktur bangunan gedung Putih mulai menunjukkan kerapuhan. Presiden Harry S. Truman kemudian merenovasi Gedung Putih dengan bantuan arsitek Lorenzo Winslow.


4. Istana Kepresidenan La Moneda, Chili

Istana presiden Chili ini dibangun oleh arsitek asal Italia Joaquin Toesca. Konstruksi bangunan istana ini dimulai pada 1784 dan mulai digunakan pada 1805. Istana ini juga pernah menjadi tempat pembuatan koin sejak 1814 hingga 1929.

Pada Juni 1845 semasa kepemimpinan Presiden Manuel Bulnes istana ini mulai digunakan sebagai kediaman presiden.

Pihak militer Chili pada 1973 sempat menyerang istana kepresidenan La Moneda dengan tank, jet tempur, dan tentara hingga istana itu terbakar.

Peristiwa yang terjadi pada 11 September selalu diperingati oleh warga Chili karena merupakan sejarah paling gelap bagi bangsa itu.


5. Istana Kepresidenan Nanjing, China

Istana ini terletak di kota kuno di wilayah sungai Yangtze. Kini istana seluas 120 meter persegi ini juga dijadikan museum sejarah kuno China.

Istana kepresidenan ini telah berumur lebih dari 600 tahun sejak awal Dinasti Ming.

Pada 1853 pasukan Taiping menduduki Kota Najing kemudian mereka memperluas bangunan istana. Dinasti Qingjun kemudian juga menyerang Nanjing dan membakar istana itu pada 1870?
 
 
sumber
selengkapnya

Selasa, 25 Februari 2014

Gapena tolak saranan mansuh bahasa istana


  • Farah Noor Samat
  • Malaysiakini Nov 16 2013
 
Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia (Gapena) menolak saranan Senator Dr Syed Husin Ali untuk memansuhkan bahasa istana yang dianggap merendahkan martabat manusia dan menggambarkan mentaliti hamba.
NONE
Ketua Satu Gapena Prof Datuk Dr Abdul Latiff Abu Bakar menganggap kenyataan senator itu, seperti dimuatkan dalam buku terbarunya, The Malay Rulers: Regression or Reform, memperkecil peranan dan keistimewaan institusi beraja.

“Yang Dr Syed Husin (kanan) tak setuju itu kerana dia salah (faham) dari segi merendah-rendahkan (martabat rakyat) dan sebagainya.

“Jadi saya lihat, umumnya kalau kita memperkatakan bahasa istana tak boleh digunakan, saya tak setuju sama sekali. Bahkan itu warisan orang Melayu,” katanya sambil menegaskan supaya jangan memperlekehkan institusi itu.

Bekas pensyarah sosiologi Universiti Malaya (UM) itu dalam The Malay Rulers: Regression or Reform antaranya membangkitkan penggunaan beberapa perkataan seperti "patik" yang bermaksud anjing dan "menjunjung duli Tuanku" yang bermaksud menjunjung tapak kaki.

Dalam wawancara di Rumah Gapena di ibu negara baru-baru ini, Dr Abdul Latiff berkata, cadangan Dr Syed Husin itu berbaur tuntutan kumpulan sosialis yang didakwanya mahu menafikan institusi diraja.

NONEDr Abdul Latiff (kiri) bagaimanapun sedia bertolak ansur sekiranya bahasa istana hanya “dikemaskini” maksud dan penggunaannya sekiranya terdapat unsur-unsur bercanggah dengan ajaran agama Islam.
Namun katanya rakyat masih perlu menggunakan perkataan bersesuaian ketika berkomunikasi dengan raja.

"Janganlah nanti orang datang baru belajar bahasa Melayu dia cakap kau aku (dengan sultan). Ini tidak boleh terjadi," kata beliau lagi.

Beliau menegaskan, untuk melakukan pengemaskinian bahasa itu, ia perlu dibuat melalui rundingan melibatkan rakyat dan Majlis Raja-Raja.

Buku The Malay Rulers: Regression or Reform setebal 86 halaman itu diterbitkan oleh SIRD, Kuala Lumpur dan dilancarkan di Petaling Jaya oleh Ketua Pembangkang, Datuk Seri Anwar Ibrahim.

selengkapnya